Soal Diskriminasi dan Rasis Di Jerman

08 June 2022
21:17

oleh : Han Prajanto

Selama belasan tahun hidup di negara Jerman, saya banyak mendengar kabar burung tentang berbagai hal yang menyangkut perlakuan diskriminasi dan rasialis bagi warga negara asing oleh warga lokal yang terjadi di negara tersebut.

Pada kenyataanya, hal diatas itu jarang saya temui dalam kehidupan sehari hari selama saya tinggal disana.

Tapi jika saya ingat ingat lebih dalam lagi, saya pernah mengalami dua peristiwa yang akan saya ceritakan disini dan apakah ini termasuk perlakuan diskriminasi dan rasialis oleh bangsa tertentu terhadap orang asing, mohon pembaca yang memutuskannya.

Peristiwa pertama
Peristiwa pertama terjadi ketika pada suatu hari saya diundang untuk datang ke rumah suatu keluarga teman saya yang orang Jerman totok.
Suami istri dan dua anak mereka yang masih remaja.
Mereka tinggal di suatu rumah dengan lingkungan kelas menengah dan semua warganya adalah orang Jerman asli. Tidak ada seorangpun yang berasal dari negeri lain.

Acaranya adalah pesta kebun, ramah tamah, makan makan daging, sosis panggang, salat, buah dan main musik.
Kebetulan yang diundang ada dua keluarga. Keluarga kami , saya dan istri serta satu keluarga Jerman suami istri juga yang tinggal di sebelah rumah keluarga teman kami tadi.

Mulanya pesta kebun berlangsung biasa2 saja. Kami saling bercerita kemudian ambil makanan masing2 dan kembali ke meja besar. Tampak tuan dan nyonya rumah sangat bahagia dan tersenyum serta tertawa menanggapi celotehan tamu2 nya.

Kemudian giliran acara musik, dimana tuan rumah memimpin anak2nya memainkan alat2 musik seperti piano, biola dan gitar. Sementara sang istri hanya ikut menonton saja , dengan alasan bahwa dia tidak bisa memainkan instrumen alat musik. Mereka memainkan lagu klasik eropa. Lumayan apik. Lumayan saja. Tampak di beberapa bar dan tempo mereka masih ada yang keteteran sehingga harmoni dalam bermusik terganggu. Tapi overall, yes lah. Maaf bukan mencemooh. Mereka bermain seperti siswa2 baru jebolan dari sekolah kursus musik. Musiknya belum ada jiwanya. Harmoni, tempo, tipis tebal, ekspresi masih kurang. Itu menurut saya lho ya. Maaf jika terkesan sotoy. hehehe ….. .

Selesai memainkan dua lagu klasik eropa, kami semua para penonton bertepuk tangan. Penonton terhibur. Semua happy. Pemain musikpun merasa puas.

Nah.. giliran berikutnya tiba. Para tamupun dipersilahkan memilih alat musik. Kami juga diundang untuk ikut menyumbang bermain musik.
Istri saya langsung mendorong saya untuk maju kedepan. Menunjukkan salah satu bakat terpendam saya, yakni bermain gitar.

Ya majulah saya kedepan panggung, gitar saya ambil dan tentu saja diawali dengan memberi sedikit sambutan pembukaan konser …hehehe.

Kemudian mulailah bergema permainan gitar flamenco saya.
Gitar menghentak2 sambil bersuara silih berganti antara bass dan melodi.
Para penonton tampak sangat menikmati permainan gitar saya.
Si nyonya tuan rumah sampai2 terperanjat karena baru tahu kalau teman yang ia kenal selama ini ternyata bisa bermain Gitar. “wah ini sih profesional, lebih hebat dari kau, papa !! ” teriaknya pada suaminya.
Sekali lagi semua puas, tepuk tangan menggema dan penontonpun sampai meminta tambahan, ” tolong, satu lagu lagi, bitte, bitte, bitte ..”

Setelah selesai memainkan lagu kedua, saya kembali ke kursi makan saya dan bersebelahan dengan suami istri tetangga tuan rumah tadi.
Nah, disinilah kemudian si istri tetangga itu mengatakan kepada saya , ” anda bermain musik sangat bagus sekali tadi, sangat berbakat. Apakah anda punya darah eropa ?? pasti ada kakek anda yang keturunan eropa ya ?? Indonesia kan dulu jajahan eropa…belanda kan ?? anda pasti keturunan mereka karena anda bermusik sangat baik ! ”

” haah…#@$!!&!!?&#@$!!!!” ” kurang ajar banget ! ” dalam hati saya. Sejak kapan darah melayu asli tidak ada yang berbakat dan bisa bermusik ???

Ya sudahlah…saya sudah terlanjur merasa tersinggung dan langsung pamit minta diri, permisi pulang sama tuan rumah. Sudah malas lihat ibu tetangga

Sayangnya diantara mereka tidak ada yang menyadari kalau saya itu sedang ngambek. Mereka pikir saya sakit perut dan mau pulang buru2.
Jadi tak seorangpun yang mengucapkaan kata maaf.

Peristiwa berikutnya
Kemudian peristiwa kedua terjadi di lingkungan tempat tinggal saya sendiri.

Kebetulan saya tinggal di Ibukota Jerman, yakni kota Berlin.
Di kota Berlin terdapat banyak orang asing dan imigran dari berbagai negara yang bermukim disana.

Sebagai seorang muslim, untuk menjamin kemudahan dan kenyamanan dalam hal beribadah dan jaminan berbelanja produk halal maka saya memutuskan untuk tinggal di little Turki alias suatu daerah di kota Berlin yang mayoritasnya adalah pendatang dari negara Turki.

Di little Turki yang warganya mayoritas muslim ini, banyak kita jumpai mesjid maupun toko toko yang menjual aneka bahan pangan berlabel halal.

Pada suatu hari dan belum tiga hari menempati apartemen di daerah ini, saya pergi ke suatu toko bahan pangan milik imigran Turki. Saya bermaksud untuk berbelanja beberapa barang kebutuhan sehari2 di rumah yang tampaknya sudah menipis.

Seperti umumnya sebuah supermarket, saya masuk toko bahan pangan sejenis mini Supermarket. Saya ambil keranjang belanja dan mulai hilir mudik mencari dan memasukkan barang2 kebutuhan keluarga ke dalam keranjang belanja tersebut.
Setelah saya rasa cukup dan belanjaan saya sudah lengkap, saya menuju kasir untuk membayar barang2 yang telah saya ambil tadi.
Meja kasirnya cuma ada satu dan kebetulan di depan saya masih ada dua orang bapak sedang mengantri. Di belakang sayapun tak lama kemudian sudah ada seorang bapak ikut mengantri. Tampak dari perawakan mereka saya bisa memastikan bahwa mereka semuanya orang dari Turki.

Menunggu antrian dua orang memakan waktu sekitar 5 menit saja, tibalah giliran saya berdiri di muka si kasir.
Dia seorang lelaki muda. Kira2 berumur 35 tahun.
Dia memandangpun tidak kepada saya. Seperti seolah olah tidak ada orang di depannya. Dia menoleh kebelakang saya. Ke orang Turki di belakang saya, seraya berkata ” next .!!”.
Dan si Turki di belakang sayapun maju kedepan kasir melewati saya. Dia pun seakan2 mengabaikan eksistensi saya.

Hahahaha… saya tidak dianggap orang.
Mungkin karena perawakan dan wajah saya yang sangat oriental asia timur dan bukan eropa atau timur tengah.
Ya, sudah… sudahlah. Gagal belanja.
Saya letakkan begitu saja keranjang belanjaan saya di lantai dan ngeloyor keluar.

Sesampai di rumah saya berpikir ulang soal kejadian tadi. Sebagai orang yang mengelola sebuah rumah tangga, tentu saja saya membutuhkan bahan baku pangan yang cukup banyak buat dimasak nih.
Barang kelontong lainnya seperti sabun mandi, sabun cuci, sabun cuci piring, pasta gigi dll. dapat saya beli di toko Jerman. Tapi soal bahan baku pangan kan mau tidak mau saya harus beli dari toko Turki.

Setelah beberapa saat berpikir keras malam itu,
akhirnya saya ada ide. Saya sudah niat bahwa ide ini akan saya lakukan esok hari.

Esoknya saya kembali ke toko Turki yang sama.
Saya berbelanja dan bersikap normal seperti kebanyakan orang lain yang saat itu sedang asik berbelanja juga.
Dan setelah saya rasa komplit belanjaan saya, maka saya berjalan menuju kasir.
Meja yang sama. Memang cuma ada satu meja kasir. Orang yang sama. Pria yang kemarin mengabaikan keberadaan saya.
Seperti biasa ada antrian di depan dan di belakang saya.

Giliran sayapun tiba.
Kembali si kasir tidak mau memandang saya. Dan dengan kurang ajar yang sama seperti hari kemarin dia berteriak keras ke orang di belakang saya, ” next ..!!! “.

Spontan saya lancarkan jurus ide yang saya dapat tadi malam. Saya membacakan Al-Quran, Ayat Kursi dengan keras dan pelafalan yang fasih berirama macam Qori di MTQ di muka kasir.

” Allahulla ila ha ila huwal haiyul qoyuum,…. dst. ”

Si kasir dan para pembeli yang sedang antri melongo dan ada yang berkata, ” Allah”.

Langsung saya dilayani dengan ramah dan cekatan oleh kasir tersebut dan sambil ia berkata , ” Jacky Chen hah … can read qoran..heh..”.

Leave a Reply