Heboh, Siswa AS Berbondong-bondong Kuliah di Jerman Untuk Hindari Hutang

Heboh, Siswa AS Berbondong-bondong Kuliah di Jerman Untuk Hindari Hutang. Kontan berita ini menarik perhatian para alumni Jerman di Lembaga Alumni Eropa (LAE) Jakarta yang beralamat di Jalan Mendawai I No. 3 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 12130 dengan no kontak 0853 1154 4185 & 0813 1811 1017.

Berita bahwa kini lebih banyak anak muda Amerika Serikat (AS) yang memilih menempuh pendidikan tinggi tanpa membayar biaya kuliah di AS, yaitu dengan cara kuliah di universitas Jerman yang bebas biaya pendidikan.

Jerman menawarkan kuliah gratis bagi siswa dari luar negeri maupun siswa domestik selama mereka memenuhi syarat akademik tertentu. Maka tepatlah keputusan para Siswa AS Berbondong-bondong Kuliah di Jerman Untuk Hindari Hutang ini.

Di Amerika, biaya kuliah di universitas negeri dan swasta justru meningkat drastis dalam beberapa dekade terakhir.

Mahasiswa AS rata-rata mempunyai hutang sekira USD30.000 (atau Rp408,5 juta) untuk membayar uang kuliah ketika mereka lulus, menurut sejarawan dan aktivis keadilan sosial Amerika, Lawrence Wittner.

“Kini, biaya kuliah tidak terjangkau oleh sebagian besar mahasiswa dan keluarganya,” kata Wittner. Hunter Bliss, yang berasal dari negara bagian Southern Carolina, mengatakan keluarganya dihadapkan pada pilihan yang sulit.

“Saya harus meninggalkan Amerika agar tidak berutang, atau tinggal di Amerika dan membayar USD45.000 untuk biaya kuliah S1. Piilihan terakhir tidak memungkinkan bagi saya,” kata Bliss.

Jerman menjadi pilihannya ketika ia tahu bisa mengambil jurusan fisika di Technical University of Munich (TUM), tempat ia bergabung setahun yang lalu sebagai siswa S1.

Biaya kuliah di TUM gratis, tapi dia mengatakan setiap tahun ia harus membayar uang “semester” sekira USD200, atau hanya Rp2,7 juta, untuk membayar biaya administrasi universitas dan biaya perhimpunan siswa.

Berapa banyak siswa AS yang belajar di Jerman?

Ribuan siswa Amerika mengambil keputusan yang sama dengan Bliss tadi dalam beberapa tahun terakhir. Heboh, Siswa AS Berbondong-bondong Kuliah di Jerman Untuk Hindari Hutang ini dipastikan infonya dari sebuah e-mail ke VOA, the Institute of Global Education, sebuah kelompok nirlaba yang berbasis di AS, mengatakan ada 3.069 warga Amerika yang mengambil gelar sarjana di Jerman pada tahun akademis 2013-14, meningkat fifty percent persen dari lima tahun sebelumnya.

Data tersebut diambil dari Dinas Pertukaran Akademis Jerman (DAAD), sebuah organisasi institusi pendidikan tinggi di Jerman.

Bliss mengatakan siswa Amerika yang mempunyai kualifikasi untuk ikut regimen S1 di Jerman biasanya bisa belajar dalam bahasa Inggris pada tahun pertamanya. Tapi mereka diharuskan mengambil kelas bahasa Jerman secara intensif untuk mempersiapkan mereka menyelesaikan pendidikan mereka dalam bahasa lokal.

“Masalah terbesar yang dihadapi siswa mungkin bahasa,” kata Bliss, yang sudah bisa berbahasa Jerman sebelum pindah ke Jerman. “Memang kita harus memilih, mengeluarkan biaya besar untuk kuliah dalam bahasa Inggris di Amerika, atau belajar bahasa Jerman dan tidak harus bayar biaya kuliah.”

Bliss mengatakan ia sedang mempertimbangkan ganti jurusan ke desain setelah tidak lulus ujian fisika. Tapi ia tidak menyesal pindah ke Jerman. “Hidup jauh dari keluarga kadang-kadang sulit. Tapi pengalamanku di sini menyenangkan. Saya menikmatinya,” kata Bliss.

Nah ini uniknya, kalau para calon mahasiswa dari Amerika Serikat (AS) saja memilih untuk kuliah di Jerman, kenapa anda tidak? Calon mahasiswa asal Indonesiapun memiliki hak yang sama untuk bisa kuliah di Jerman selagi masih gratis.

Ayo segera jadwalkan untuk berkonsultasi dengan para alumni Jerman di Lembaga Alumni Eropa (LAE) Jakarta, sekalian ajak serta orang tuamu yah. Agar mahasiswa Indonesia tak kalah heboh dengan berita Heboh, Siswa AS Berbondong-bondong Kuliah di Jerman Untuk Hindari Hutang ini.

Leave a Reply

Close Menu