Kuliah Kedokteran di Jerman Dengan Biaya Yang Sangat Terjangkau

Biaya kuliah kedokteran di Universität Heidelberg hanya Rp2.463.450/Semester nya, Mau tau detail nya? Silahkan simak paparan dibawah ini. 

Kok bisa sih hanya 2,4 juta rupiah per semester? Kenapa tidak bisa?….. biaya kuliah murah ini bisa terjadi karena pemerintah Jerman mensubsidi penuh seluruh biaya studi bagi setiap mahasiswanya.

Mari kita cek bersama kebenaran informasi ini.

Jika pada tulisan sebelum nya, kami telah membahas biaya kuliah di kota Freiberg, Aachen, Berlin dan München, maka subjek pembahasan kami kali ini adalah Heidelberg. Heidelberg adalah sebuah kota otonom di wilayah negara bagian Baden-Württemberg, Jerman. Memiliki luas 109 km², Heidelberg terkenal dengan kastil, kota tua, dan universitas tua yang sangat terkenal di dunia. Universitas Ruprecht Karl Heidelberg ini didirikan pada tahun 1386 dan merupakan universitas tertua di Jerman. Terhitung sejak 1908, hampir setiap 3 tahun sekali ada seorang ilmuwan dari universitas Heidelberg yang mendapatkan Nobel Price dari berbagai bidang disiplin ilmu (sumber:https://www.uniheidelberg.de/md/zentral/universitaet/geschichte/heidelberg_nobel_prize_winners.pdf )

 

Ok baiklah, sekarang marilah kita masuk ke website resmi dari UNI Heidelberg, https://www.uni-heidelberg.de/studium/interesse/gebuehren/  maka kita akan mendapatkan tampilan aslinya berbahasa Jerman yang akan terlihat seperti ini

Pada laman tersebut dijelaskan rincian dari biaya kontribusi yang harus dibayar oleh setiap mahasiswa UNI Heidelberg untuk tahun ajaran Winter Semester 2018/2019 dan Sommer Semerter 2018 adalah hanya 152.30 Euro atau +/- Rp 2.466.136 (kurs euro = Rp 16.182. data tanggal 30.05.2018).

Sekarang marilah kita bahas setiap rincian komponen tersebut satu persatu. Jika kita masuk ke laman resmi Uni Heidelberg terkait hal ini, https://www.uni-heidelberg.de/studium/interesse/gebuehren/weiter_geb.html kita akan mendapatkan penjelasan detail mengenai rincian biaya tersebut. Hanya saja seluruh nya dijelaskan dalam Bahasa jerman yang tentunya akan menjadi masalah bagi sebagian besar pembaca tulisan ini untuk dapat mengertinya. Untuk itulah kami akan mencoba menjelaskannya secara garis besarnya saja dalam Bahasa Indonesia.

Dana kontribusi mahasiswa sebesar 152.30 € tersebut hanya diperuntukkan untuk beberapa komponen pembiayaan yaitu:

Komponen pertama, Biaya Verwaltungskostenbeitrag sebesar 70€ (Rp1.132.740). Adapun biaya ini adalah biaya yang ditujukan untuk membiayai secara bersama sama semua biaya terkait layanan administrative mahasiswa, seperti misalnya, pendaftaran awal, cuti, pendaftaran kembali dan eksmatrikulasi, konseling siswa, penempatan magang, promosi transisi ke dunia kerja dan sebagainya yang mana untuk point point ini pengawasan teknis siswa dari staff pengajar tidaklah dapat tercakup.

Komponen kedua, Biaya Sozialbeitrag für das Studierendenwerk sebesar 49€ (Rp792.918). Biaya ini adalah kontribusi mahasiswa untuk menunjang kegiatan sosial Studentenwerk terkait layanan dari Studentenwerk (kafetaria, hostel, pusat konseling psikoterapi (PBS), dll.). ini semua dibiayai bersama dalam solidaritas antar mahasiswa.

Komponen ketiga, Beitrag für die Verfasste Studierendenschaft sebesar 7.50€ (Rp 121.365). Biaya ini adalah Kontribusi setiap mahasiswa untuk menunjang kegiatan dari badan mahasiswa (senat) dari masing masing fakultas. Kontribusi akan dikumpulkan oleh Universitas bersama dengan kontribusi semester lainnya di setiap umpan balik dan kemudian diteruskan ke Badan Mahasiswa yang Berwenang.

Komponen keempat adalah Komplementärfinanzierung des Semestertickets sebesar 25,80€ (Rp 417.495). Biaya ini adalah biaya kontribusi setiap mahasiswa untuk biaya transportasi didalam dan disekitar wilayah kota Heidelberg. Dengan membayar 25.80€ per semesternya, maka seorang mahasiswa memiliki hak penuh untuk menggunakan seluruh moda transportasi public yang ada di Heidelberg dan sekitarnya, baik itu berupa Bus, U-Bahn, S-Bahn, selama 1 semester (6 Bulan) 24 jam non stop.

Dengan demikian, sebagai kesimpulan, mahasiswa Universitas Heidelberg hanya dibebankan biaya kontribusi sebesar Rp 2.466.136 saja setiap semesternya. Jika masa studi di Universitas Heidelberg untuk jurusan regular (bukan kedokteran) adalah 7 semester, maka diperlukan dana hanya Rp 17.262.952 saja hingga lulus meraih gelar Bachelor dari sebuah universitas yang ada pada peringkat 68 dunia (sumber https://www.topuniversities.com/university-rankings/world-university-rankings/2018)

Sedangkan untuk keperluan hidup, seorang mahasiswa di Heidelberg harus mengeluarkan dana sebesar 558€ atau sekitar Rp 9.029.556 per bulan atau selama 7 semester menjadi Rp 379.241.352 (sumber https://www.uni-heidelberg.de/studium/interesse/int_bewerbung/leitfaden/vor_der_anreise.html).

Rinciannya adalah seperti yang tertampil berikut dibawah ini:

  • € 220-350 untuk sewa tempat tinggal
  • € 90 untuk asuransi kesehatan
  • € 100 untuk makan siang di kantin Universitas
  • € 70-120 untuk biaya Makan dan Minum
  • € 18 Iuran TV dan Radio
  • € 10 – 20 biaya komunikasi dan internet

Sama hal nya dengan mahasiswa di Freiberg, Aachen, Berlin dan juga München Setiap mahasiswa di sebuah PTN Jerman diperbolehkan atau bahkan diharuskan untuk bekerja di seluruh area kerja yang ada di Jerman. Mereka bisa bekerja pada sector informal maupun formal dgn jam kerja yang bervariasi antara 10 sampai dengan masimal 30 jam kerja per minggu nya. Dengan bekerja, seorang mahasiswa di Jerman bisa berpenghasilan antara 600 sampai 1500 euro perbulan nya, tergantung di mana dia bekerja dan apa bentuk pekerjaan nya.

Saat tulisan ini dibuat, terdapat 127 peluang kerja bagi mahasiswa Universitas Heidelberg yang ditawarkan oleh Rumah Sakit Universitas (Universitätsklinikum). Silahkan cek pada laman berikut : https://karriere.klinikum.uni-heidelberg.de/index.php?ac=search_result

Jika kita asumsikan bahwa dari hasil bekerja dia mendapatkan income per bulannya sebesar 600 euro, maka angka ini bisa di gunakan sebagai komponen pengurang terhadap biaya total diatas.

Jika biaya total yang diperlukan adalah Rp 379.241.352, namun kemudian si mahasiswa bekerja dengan income 600 euro perbulan, maka terdapat pengurangan biaya sebesar 600 euro x 42 Bulan = Rp407.786.400. sehingga biaya total menjadi Rp 379.241.352 – Rp Rp407.786.400= minus Rp28.545.048. atau dengan kata lain… si mahasiswa malah surplus dana sebesar Rp28.545.048!! sekali lagi… adakah kuliah kedokteran di luar negeri, di sebuah universitas peringkat 68 dunia, sampai lulus dengan biaya bahkan surplus 28 juta ??

Ok,.. Sekarang, sekali lagi mari kita bandingkan biaya kuliah di Jerman dengan biaya kuliah tehnik di Universitas Indonesia (UI).

Berdasarkan data dari web universitas Indonesia berikut ini http://www.ui.ac.id/wp-content/uploads/dlm_uploads/2018/04/FT-SK-007-Tahun-2018.pdf dapat dilihat bahwa biaya pendidikan untuk 2018 – 2019 adalah Rp 20.000.000. dan biaya administrasi sebesar Rp 20.000.000

Jika kita samakan komponen biayanya seperti diatas, maka kita akan dapatkan

  • Biaya pendidikan sebesar 20.000.000 euro x 8 Semester = Rp 160.000.000. lalu ditambahkan lagi dengan biaya administrasi sebesar Rp 20.000.000 menjadi Rp 180.000.000
  • Biaya hidup sebesar:
    • Rp 2.000.000 x 48 Bulan = Rp 96.000.000 (tempat tinggal)
    • Rp 1.500.000 x 48 bulan = Rp 72.000.000 (Makan & Minum)
  • Biaya asuransi kesehatan tidak termasuk. Sehingga biaya kesehatan ini sangat mungkin akan tinggi sekali jika si mahasiswa sakit dan perlu di rawat.
  • Biaya iuran radio dan TV tidak termasuk.
  • Biaya internet dan telekomunikasi 24 hours dengan un-limited quote +/- Rp 500.000 x 48 bulan = Rp24.000.000
  • Biaya Transportasi sangat bergantung dari lokasi dan jarak kampus dengan tempat tinggal. Bagi yang tinggal jauh mungkin memerlukan biaya transportasi antara 300.000 sd 500.000 untuk bensin per minggu atau 2 juta sebulan

Total : Rp 420.000.000 (tidak termasuk biaya perawatan kesehatan)

Sangat jarang sekali seorang mahasiswa di sebuah PTN di Indonesia dapat menjalani studi nya sambil bekerja. Hal ini sangat jauh berbeda kondisi nya dengan mahasiswa Jerman yang hampir setiap dari mereka pasti bekerja. Seandainya ada mahasiswa di PTN Indonesia yang bekerja, maka jumlahnya pun sangat sedikit, dan selain itu income yang dia peroleh dari hasil kerjanya, tidak akan pernah mungkin cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kuliah nya. Sehingga dengan demikian tidak ada factor pengurang dari biaya Rp420.000.000 tersebut. Bahkan biaya ini bisa membengkak berkali kali lipat jika ternyata si mahasiswa jatuh sakit hingga perlu perawatan di rumah sakit.

Demikian sekilas pembahasan terkait rendah nya biaya studi di salah satu Universitas terbaik di Jerman dan perbandingannya dengan biaya kuliah di salah satu PTN unggulan di Indonesia.

Pertanyaan nya adalah….. jika ada opsi untuk bisa kuliah di luar negeri dengan qualitas pendidikan yang sangat bagus, berbiaya sangat murah dan ada jaminan pekerjaan yang bagus di perusahaan eropa setelah lulus….lalu kenapa juga masih memilih kuliah di dalam negeri yang jelas mahal nya, dengan qualitas pendidikan yang ??? dan tidak ada jaminan bisa kerja di perusahaan eropa …

Semoga para pembaca dapat dengan cerdas mencermati semua informasi dalam tulisan ini.

Penulis adalah Alumni TU Berlin tahun 2003. Pada fakultas Verkehrs- und Maschinensysteme jurusan studi Global Produktion Engineering, dan sejak 2012 telah membimbing hampir 97 mahasiswa Indonesia untuk meneruskan studinya di seluruh PTN Jerman.

Tulisan ini hanya difokuskan pada perbandingan pembiayaan antara kuliah di PTN Jerman dengan kuliah di PTN Indonesia. Aspek lainnya diluar biaya, seperti tingkat kesulitan akademik yang jelas berbeda, prosedur seleksi masuk universitas, tahapan persiapan awal studi di Indonesia dan aspek lainnya tidak menjadi pembahasan dalam tulisan ini.

Kami persilahkan untuk datang langsung ke kantor Lembaga Alumni Jerman untuk mendapatkan paparan detail terkait aspek lainya dari para alumni Jerman kami.

Leave a Reply

Close Menu